"TheNeverlands Playgrounds"
Extreme, exclusivitas, patah tulang, dan gaya adalah hal-hal yang terbayang apabila seorang awam seperti saya mendengar tentang skateboarding. Namun di pedalaman kota Bandung antara pasar Kosambi dan Yogya Dept Store jalan Sunda terdapa sebuah bangunan kecil pinggir jalanan Baranangsiang, menyempil diantara pepohonan dan tukang bakso, dimana “ extreme sport “ seperti dimainkan oleh belasan anak kecil kisaran 3 hingga 13 tahun.
Tempat ni adalah The Neverlands Playgrounds, dibangun pertengahan November 2006. sebuah proyek kecil dari yayasan adikaka sebagai aktualisasi dari The Never Grow Up campaign.
The Neverlands Pplaygrounds dibangun di depan halaman kantor. Rumah produksi dan toko CV merlina agung yang bergerak dibidang plastisol screenprinting dan menghasilkan produk seperti Distribute Musik Merchindising, United Moron Inc. dan Parental Advisory Baby Clothing.
Visi dan Misi The Neverlands project adalah mendirikan supervised playground pada daerah sub. urban, atau daerah padat penduduk untuk anak-anak kecil hingga hingga usia 15 tahun. Taman bermain yang berfungsi sebagai tempat bermain gratis ini harus dapat menjadi ventilasi bagi anak untuk “ balas dendam “ atau mencurahkan emosinya pada permainan yang konstruktif meskipunterkadang ekstrim. The Neverlands memiliki 3 aturan mendasar bagi siapa saja yang mau main di tempat ini…
1. JAGA KEBERSIHAN
2. JAGA ANTRIAN
3. JANGAN NGOMONG ANJING !!!!
The Neverlands memilih skateboarding sebagai media permainan. Sebagian besar perlengkapan adalah sumbangan dari pengurus, dan sebagian besar diperoleh dengan cara barter dengan pemain skate yang memiliki peralatan yang sudah bekas atau rusak. Peralatan yang ada biasanya dimodifikasi lagi oleh pengurus.
Penggunaan fasilitas skate ini melebihi 20 anak dikarenakan tempat yang luar biasa sempit, dan alat yang padat dam terbatas,para skaters ini diwajibkan untuk antri seperti di loket busway. Pengurus menujuk seorang penanggung jawab diantara anak-anak yang sedang bermain. Penanggung jawab ini berfungsi sebagai leader yang bertugas menjaga urutan antri, yang mengambil keputusan atas berapa kali luncuran per 1 kali antrian per anak, menjaga alat-alat, menjaga dan memberi contoh pada pemain baru dan juga melaporkan apabila ada yang melanggar aturan dasa.
Meskipun para pengurus The Neverlands ini tidak ada yang mengerti skateboard,namun para junior yang sudah dapat melakukan drop in dan quarter mini ( tingggi 60cm) sudah mencapai 9orang dimana yang paling bungsu berumur 4 tahun.prestasi drop in dari halfpipe ISA di GOR Saparua saat ini ada 2 orang dari anak-anak kecil ini dapat meluncur dengan lancer, jadi cukup tertegunjuga disaat satu persatu anak-anak kecil ini dapat menluncur dengan “ stylish “meskipunpakai baju taqwa mesjid jihadul akbar,sandal jepit dam baju tidur.
Bila ditanya tentang masalah dan kendala pada proyek The Neverlands Playgrounds adalah bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap kecelakaan pada pemainan ini masih cukup tinggi, skateboarding is still an extreme game, it’s still dangerous if played with no supervision dan memang bermain skateboard pada tempat yang padat tetangga cukup gandeng ( berisik bhs.sunda ). Jadi sering kali terjadi penjitakan dan penamparan “ kecil-kecilan” pada calon atlit junior kita. “ Ya, memang bagi sebagian masyarakat sepuh didaerah ini,skateboarding is still crime! ( skateboard adalah kejahatan! Red. ) “ namun maka dari itu skateboard adalah ventilasi bagi kenakalan yang memang sudah adapada setiap cowok dan cewek bangsa ini, skateboarding aren’t for softies! ( skateboard bukan untuk yang cengeng. Red.).
Harapan The Neverlands Pleygrounds project adalah bukan pada keberhasilan anak-anak bermain skateboard, tetapi pada attitude pemain ( sikap dan perilaku ), disiplin pada aturan, saling menghargai prestasi, sikap saling tolong,apresiasi terhadap kerja keras seseorang dan rasa tanggung jawab kepada sesama. Dimana nilai nilai yang dapat di peroleh dari bermain skateboard sendiri sudah cukup banyak yang positif, seperti ketekunan, kerjakeras, pantang menyerah,tidak takut jatuh, hati-hati dan lain-lain.
” The Neverlands bukan sekolah skateboard. The Neverlands project adalah tempat bagi siapa saja, baik yang suka skate ataupun tidak,tempat ini adalah Neverland bagaikan di film PeterPan, sebuah tempat dimana suara anak-anak didengar dan jiwa ke kanak-kanakan dipelihara!! NEVER GROW UP!! Stay young for kids.”
"Menghilangnya Bani"
"kalau ada apa2 dengan Bani gue salahin elu pei, hanya elu..." dikutip dari seorang sahabat.
Aku harus coba menghitung mundur, sekarang ini adalah tanggal 25 oktober 2008, tanggal dimana Bani pada akhirnya dibelikan sepeda montainbike dari bapaknya. Kemarin adalah hari kedua dia ada di kantor aku belajar corel draw ala distro (menurut buku panduannya). Okey, jadi ini hari ke tiga ditemukannya Bani di belantara stasiun Kiaracondong bandung oleh Agung Asmo. Jadi menurut perhitungan jari2 ku, sebagai alat hitung utamaku dalam berbisnis, Bani ditemukan pada hari rabu tanggal 22 oktober 08. Berita ttg kehilangannya Bani aku terima dari bapaknya bani itu tanggal 20 oktober malam, dimana aku langsung menghubungi teman2 ku via facebook ini.
Berita di malam itu masih sangat simpang siur, karena bapaknya asal mulanya tidak akan bercerita apa2 sebelum gue tembak saat secara kebetulan aku bertemu dengannya saat beliau mau membeli nasi goreng telor di rumah tetanggaku. "Kang! Ari si bani teh tos pendah?"kata ku yang berarti "Bro, Bani my man udah moving away? Hasn't he?" dan kang Odim menjawab bagaikan seseorang yang bingung mencari jawaban pada seseorang yang sedang menagih hutang pada seseorang yang belum sanggup membayar. Kira2 seperti ini " Jadi gini, bani teh kehilangan dompet dan kang odim teh marah, tapi ngak apa apa karena besoknya mau dikasih duit lagi, kata bani ada di temannya, masih sahur bareng, bangun bangun kang odim mencuci, bani ngak diapa apain kok, kang odim marah sih tapi udah mau dibeliin sendal lagi kok, pas sorenya kang odim pulang ada surat kalo bani ama teman ke cianjur ama teman, disusul naik kereta sama kang odim, eh keretanya mogok...". Karena keterbatasan bahasa sunda gue, obrolan kang odim yang bercerita dalam bahasa sunda, aku, tidak ngerti. Hanya bahwa bani kabur ke cianjur sehabis ada clash sama bapaknya ttg duit. Aku tanya, itu udah berapa lama? Dan katanya "sekitar 20 hari, hari jumat sebelum lebaran..." SAMBERR GLEDEK PUTING BEULIUNG!!! 20 hari dan gue ngak tahu?! Dan bapaknya melanjutkan tadinya ngak mau ngasih tahu sama om pei, karena kang odim segan, dan ngak mau di ributin, takut ngak enak. Ngak enak...
dan dalam hati ini gue yang bener2 ngak enak...
Aku akan coba untuk flashback beberapa minggu sebelum kejadian apa2. Bani, adalah seorang pengamen kecrek-kecrek di persimpangan jalan sunda. Bani yang saat aku buka kegiatan Neverland adalah anak termuda dan yang paling kecil yang dapat meluncur dengan baik, saat itu ia berumur 7 dan kini sudah 9 tahun. Ia adalah anak yang tampan meskipun saat itu selalu ada tapak ingus kering di antara hidung dan pipinya akibat kebiasaanya menggosok surplus dari lendir tersebut ke bahunya. Ia adalah anak yang luar biasa cerdas, karena konon katanya ia sudah dapat membaca jauh sebelum ia masuk sekolah. Bani tinggal di sebuah rumah yang sebenarnya cukup besar tapi ambruk oleh angin, meninggalkannya sebuah kamar yang bersebelahan dengan wc dan sumur umum, begitu lembab hingga saat seorang asmatis seperti saya bengek disaat 15 menit bertamu.
Disaat aku menhampirinya pada malam hari, ia dan bapaknya tidur diatas amparan kardus kulkas, nyaris setara dengan tinggi genangan air hujan berjarak sekitar 1 meter dari kardus tersebut. Aku diberitahu apabila hujannya keras genangan air tersebut akan membanjiri kamar mereka. Begitu memprihatinkan nasib kehidupannya sebagai anak broken home yang tinggal bersama bapak kandungnya yang juru parkir jalan sudirman. Ibunya hidup bersama seorang bapak tiri yang beragama nasrani. Bani adalah satu2nya anak yang aku kenal yang beragama kristen terkecuali pada hari sabtu dan minggu menjadi islam. Jadi kalau hari jumat ya tidak jumatan, dan kalau hari minggu tidak ikut misa.
Di tengah keprihatinannya bani adalah seorang anak yang dapat sekolah di SD Embong di kelas 2, sekolahnya dari jam 7 hingga jam 9, namun alpha yang tercatat melebihi 50 hari yang karena itu aku dipanggil ke sekolahnya karena setiap kali bolos, dia menggunakan alasan ada kegiatan yayasan adikaka, kegiatan neverland, syuting atau peliputan TV dan cukup sering menjual kata "om pei" utk dapet izin tersebut. Sebagai anak yang jago luncur dengan umur paling muda ia sering jadi bulan2an anak anak neverland lain yang lebih tua hingga 3 tahun.
Bani adalah salah satu anak neverland yang paling sering terkena sangsi push up ataupun skorsing akibat berbohong, membolos, brantem, dan menghilangkan alat ataupun skateboard hingga 2 kali tanpa merasa bersalah, dan tidak mau meminta maaf. Meskipun itu ia adalah anak yang sangat interaktif, sangat memperhatikan sekitarnya dan sangat sopan. Bahkan ia bukan seorang yang bisa masuk dalam kategori pengutil menurut ku. Dan ia adalah anak briliant yang memang butuh perhatian, yang saat itu sedang aku skors cukup lama...
(to be continue)
"Dejan Sang Manajer"
Dejan Glusevic, atau yang biasa disapa dengan Dejan, harus pasrah masuk UGD RS Muhamadiah tepat di hari ulang tahunnya yang ke 13.
Dejan yg lahir di Bandung pada tgl 26 juni 1996 adalah salah satu pencetus gerakan The Neverland Playgrounds, yaitu gerakan taman bermain gratis milik yayasan Adikaka yang dibangun tepat bersebelahan dengan gang masuk rumahnya. Terkenal dengan kemampuan jajannya, namanya di duga adalah singkatan dari "Gede Jajan". Dejan adalah anak yang punya kemampuan komunikasi yang luar biasa, keberaniannya menyapa orang dan berkenalan dengan siapa saja, menjadikan Dejan diangkat sebagai manajer Neverlands oleh anak2 sebayanya. Dejan adalah anak yang sangat aktif, dan sangat komunikatif kepada semua orang, baik kepada yang tua maupun yang muda. Semua orang sepanjang jalan Baranang siang Bandung mengenal sosok Dejan yang selalu ceria dan senang menyapa. Dejan, alumni SDN Patrakomala, yang baru minggu ini naik ke kelas 2 di SMP Pasundan 6, adalah anak bungsu dari pasangan Dadang Kardiana mantan Satpam yang kini berpenghasilan dari mendistribusikan minyak tanah.
Kemampuan dalam melakukan pendekatan ke orang, sangat jelas terlihat, sewaktu pada acara pertandingan skate "Volcom, wild in the parks" di Depok tahun 2007, ia bertanya pada saya:
" Om' pei, kalau menyapa apa kabar dalam bahasa inggris gimana Om?"
"How are you sir?" kata ku, dan dejan langsung bergegas pergi.
Ia duduk, di sebuah bangku sambil pelan2 bergeser mendekati seklompok orang prancis yang sedang ngobrol. Tiba2 ia berbalik badan dan menyapa mereka: "How are you ? Sir? ".
Entah pakai bahasa apa, namun percakapan Dejan terus berlanjut hingga Dejan kembali berlari pada ku dan bilang:
"Cepet om pei, minta stiker dan kartu nama... katanya mereka mau mampir bandung minggu depan. :) "
dan penuh kekaguman aku hanya menatap seorang calon PR (public Relation/ Humas) yang luar biasa yang pasti akan menjadi orang besar dijamannya kelak kata ku.
Namun Alloh memiliki rencana yang lain.
"Dejan adalah salah satu pencetus Neverland Playground"
"Neverland Playground tidak akan pernah berdiri bila bukan karena Dejan. Begitupun dengan komunitas Skatenya!" Itulah pernyataan yang aku lontarkan disaat anak-anak Neverland sempat menanyakan kenapa Dejan diangkat jadi anak Neverland Skater padahal belum bisa meluncur dengan mulus dari tempat skateboard yang tingginya 1,5m. Memang hal tersebut adalah salah satu syarat utk dapet kaos “Neverland skateboarder”.
"Keberanian Dejan beda!" kata ku.
"Dia mungkin lebih lama dalam mempelajari skill skateboard. Tetapi kemampuannya dalam menarik simpati orang, kepeduliannya dan perhatiannya terhadap teman itu lebih sulit diperoleh dan lebih berharga daripada trik skateboard mana pun."
"Adakah yang bisa nyangkal kebranian Dejan dalam berkenalan dengan orang?" dan semua anak Neverland diam sambil geleng kepala.
Dejan, adalah anak yang pertama kali memberikan skateboardnya utk dimainkan oleh anak-anak, jauh sebelum siapapun bahkan bisa berdiri di atas sebuah papan skate. Ia yang menemani Nabil dan banyak anak2 kecil di baranang siang dalam bermain. Dia adalah inspirasi pencetus gagasa didirikannya sebuah taman bermain bagi anak-anak kecil. Karena sebuah kampanye "Never Grow Up" (kampanye bermain dengan anak) tidak pernah lengkap bila tidak difasilitasi dengan area bermain bebas. Dejan adalah anak kecil yang bersikap jauh lebih dewasa dalam menghadapi dan memperhatikan anak-anak di daerah Baranang Siang daripada orang dewasa manapun di daerah ini. Dan hingga kini keceriaan Dejan dalam bermain tetap menggema di telinga. ……….Menggema dalam hati.
"Kepergian Dejan"
Dejan masuk Rumah sakit, tepat 3 hari setelah penayangan acara "Cita-cita ku" di Trans 7. Ia berperan sebagai tokoh utama yang mencoba memperbaiki Robot Gundam yang secara tidak sengaja dirusak oleh pemain2 Skateboard (Endo, Ujang dan Robi) dan membuat Diorama di Zero Toys bersama Om Aldo dan Ridwan. Dejan hingga kini belum sempat nonton acaranya sendiri yang ditayangkan pada hari rabu.
"Endo, dejan nonton ngak?" kata ku pada salah satu anak Neverland," Enggak om Pei, Dejan lagi Sakit."
Pada jumat pagi, saya mendapat kabar bahwa Dejan terkujur kaku sambil kejang-kejang di kamarnya. Bergegas kami lari ke rumahnya. Dejan setengah sadar, jari2 tanganya kaku bagaikan mencengkram batu yang tembus pandang di depan dadanya. Ia melihatku, dan ibunya bertanya,
"Dejan lihat! siapa itu? Dejan? Dejan inget ngak?"
"O..om pe..i" Dejan menjawab dengan nada lemah.
Keluarganya dengan sigap menyiapkan SKTM (surat keterangan tidak mampu) untuk di rujuk ke RS Muhamadiah. Sebelumnya dejan telah berobat ke Dokter Umat sehat, dan cek darah ke lab, namun menurut diagnosa, hasil tes darahnya baik. Berdasarkan tes lab tersebut Dejan di diagnosa sakit panas biasa oleh dokter Umat Sehat.
Di IGD Rumah Sakit Muhamadiah, dejan di diagnosa Tetanus, akibat terjadi kejang2 disaat terkena sinar cahaya dan hiruk pikuk orang. Menurut dokter setempat Dejan harus masuk ruang isolasi. Disayangkan ruang isolasi RS Muhamadiah sedang penuh.
Aku mengusulkan masuk RS. Santosa, karena memiliki pengalaman yang cukup baik dengan Rumah sakit tersebut. Namun, memang pembiayaan SKTM hanya ditanggung hingga 2/3 dari keseluruhan biaya pengobatan. Menurut Dokter Muhamadiah meskipun sebagian di tanggung oleh pemerintah, 1/3 dari biaya rumah sakit swasta tersebut akan tetap terasa cukup tinggi melihat kondisi ekonomi keluarga Dejan. Hal tersebut tetap dapat menjadi cukup berat karena pengobatan bisa mencapai di atas 20jt an, berhubung fasilitas yang dibutuhkan antara lain ruangan isolasi dll. Fasilitas khusus tersebut tidak ada pada semua rumah sakit lain. Dokter menyarankan lebih baik ke RSHS, meskipun disana pasti penuh, namun IGD (instalasi unit gawat darurat) RSHS, dan tenaga dokternya cukup banyak hingga bisa menangani keadaan Dejan, meskipun di IGD.
Dejan diputuskan untuk pindah ke RSHS menggunakan Ambulance. Di IGD RSHS, Dejan di diagnosa bukan menderita tetanus melainkan DB. Setelah beberapa lama berada di installasi Gawat Darurat, Dejan dipindahkan ke ruangan perawatan Anak A2 ruang 2.
Hari minggu tgl 28 juni sore, disaat anak2 Neverland diberikan kesempatan berkunjung, saya bertemu dengan Dokter dan ia menyatakan bahwa Dejan tidak menderita DB. Untuk dilakukan diagnosa Dejan harus diambil cairan dari otak melalui tulang belakang. Namun sebelum tes tersebut dapat dilakukan Dejan memasuki masa kritis pada hari senin subuh dan menghembuskan nafas terakhirnya jam 7 pagi 29 juni 2009.
"Insya Allah Dejan sendiri kini hanya tinggal bersenang-senang bersama Allah..." adalah kutipan SMS belasungkawa dari seorang sahabat yang ikut berduka...
“Aku yakin bahwa Dejan menjadi cahaya keceriaan yang semakin menerangkan surga... tempat ia kini bermain bersama Rasul dan para orang orang ber Iman."
In Memoriam
Dejan Glusevic
BANDUNG 26 JUNI 1996-29 Juni 2009 atas nama semua anak2 Neverland
OmPei
"Dejan Glusevic"
BANDUNG 26 JUNI 1996-29 Juni 2009
berbisik dalam tenang... candanya tetap bergema dalam hati...
saat sebelum ada neverland... dejan udah sering bermain dengan anak anak keci daerah baranang siang, bahkan dengan nabil.
saat shooting buat iklan indomilk...
dejan adalah pendiri neverland, dia yang membangun dan bermain dengan anak2 kecil di sini...
sebuah tempat skate kecil... di mana anak2 bebas bermain tanpa harus khawatir di banjur air oleh warga.
dejan pada acara skate di Depok dimana dejan bertemu dengan sembilan skateboarder dari prancis.
dejan sang manajer...
Gede Jajan... (de-jan)
dejan tidak pernah canggung dalam kenalan dengan orang...
dejan seringkali di cap sebagai anak yang jahil... tapi pribadinya sangat perhatian pada orang2 disekitarnya.
dejan saat shooting diantara 100 orang figuran buat indomilk.
selain sebagai manajer Neverland, dejan sangat gemar menggunakan kamera, banyak foto dan filem yang diambil oleh dejan dari anak2 neverland sebagai fotografer.
dejan saat nengok agus di Garut, salah satu anak neverland yang menjadi yatim.
crew shooting iklan indomilk bersama pak budi dan perwakilan dari manajemen indomilk.
teman2 dejan di neverland, meski ukuran tempat skatenya hanya 2 x 8 meter tapi peminatnya hingga lebih dari 50 anak...
we really going to miss you...
may your laughter make heaven become more beautiful then they said it would be...
Rest In Peace
Dejan Glusevic
"Disaat Jacko menjadi donat. Neverland pun bisa menjadi Punk"
Tak ada yang abadi, kata Ariel Peterpan. Bahkan arti dari sebuah nama bisa berubah. Pergeseran makna dari sebuah kata bisa saja mengalami degradasi maupu mengalamin kenaikan nilai. Tujuan sebuah gerakan, bahkan makna dari sebuah perjuangan dapat berubah. Itulah hal yang terpikirkan oleh ku ketika melihat perkembangan The Neverlands Skate Community di daerah Jl. Baranangsiang Bandung.
Bagi mereka yang belum tahu, Neverlands yang dimaksud disini bukanlah nama bekas kediaman mendiang Raja Pop dunia, Michael " Jacko " Jakson. Tetapi adalah gerakan taman bermain gratis dibawah bendera Yayasan Adikaka yang dibangun untuk memfasilitasi anak-anak kecil ekonomi lemah untuk bermain dan belajar skateboard, design grafis, komputer, fotografi, dan enterpreunership di daerah pasar Kosambi Bandung sejak awal tahun 2007.
Tahun 2009 menjadi tahun yangsangat berat bagi komunitas The Neverlands Skate Community, selain peralatan skate yang semakin rapuh ditebas hujan, kecelakaan anak-anak akibat motor-motoran, ruang bermain yang semakin tergusur, peralatan maupun uang kas yang hilang entah dicuri, hingga meninggalnya 4 anak kecil secara tiba-tiba di daerah ini akibat sakit maupun drugs. Itulah warna yang mewarnai hari-hari komunitas ini dengan corak-corak yang serba kelabu. Begitu sangat kelabu.
Hal yang paling memukul adalah kepergian Dejan Glusevic ( 13 tahun ) yang sangat mendadak karena penyakit yang hingga kini belum diketahui diagnosanya. Dejan adalah salah satu perintis The Neverlands. Gossip masyarakat yang meng" kambing hitam"kan kegiatan Neverlands sebagai penyebab kematian Dejan cukup membunuh semangat " Punk " yang seharusnya berkobar pada Yayasan ini.
" Mungkin sudah saatnya Neverlands yang motonya Never Grow Up! melakuka perubahan, dan sejenak rehat menjadi dewasa."
Tapi pikirkan dan gossip sebagian masyarakat, yang rata-rata umumnya setara dengan umur tokoh Captain Hook pada film Finding Neverland sebenarnyalah yang dapat membunuh kesempatan anak-anak bermain, belajar dan bermimpi sambil membangun masa depannya. Mereka tidak akan pernah mengerti kami, dan kami tidak ingin kapten Hook tertawa senang dengan kematian Neverland beserta anak-anaknya.
Dan bagaikan di film Peter Pan, kami sepakat untuk mengatakan satu kata.
NEVER...!!
Tidak akan Pernah..!!
Disaat mental donut mulai menghantui. Semangat harus dibakar.
Dewasamu tidak pernah cocok untuku!
..dan gossip-gossipmu terlampau tumpul untuk menikam semangat perlawananku.
NEVER GROW UP ! STAY YOUNG FOR KIDS